TUGAS 1
SOSIO-ANTROPOLOGI PENDIDIKAN
PENDIDIKAN DALAM
KONTEKS SOSIO-KULTURAL
Dosen Pembimbing:
Drs. Bambang Saptono M.Si
Disusun oleh:
Endang Tri Adiningsih
19302241004
Kelas:
Pendidikan
Fisika A Angkatan 2019
FAKULTAS
MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS
NEGERI YOGYAKARTA
2021
PENDIDIKAN DALAM
KONTEKS SOSIO-KULTURAL
Soal :
Setiap orang berada di dalam masyarakat (man in
society) dan manusia berada di dalam kebudayaan (man in culture). Jelaskan
mengapa pendidikan memerlukan perspektif sosio-kultural
Jawab :
Setiap
orang berada di dalam masyarakat (man in
community/society) dan sekaligus berada di dalam kebudayaan (man in culture) (Suyata, 2000). Setiap pribadi
merupakan makhluk biologis, sosiologis, dan kultural (biososiokultural) yang melalui
proses belajar di dalam masyarakat (proses sosial) dan di dalam kebudayaan
(proses budaya). Dalam konteks sosiologis, pendidikan merupakan alat untuk
memelihara kelangsungan hidup bersama di dalam sistem yang ada. Sedangkan dalam
konteks antropologis, pendidikan merupakan alat dimana dengan itu kebudayaan
masyarakat dilestarikan melalui proses pewarisan kebudayaan.
Pendidikan
merupakan proses, dimana terjadi interaksi antara pendidik dan peserta didik di
dalam suatu masyarakat. Pendidikan memiliki visi kehidupan untuk hidup dalam
suatu masyarakat. Pendidikan merupakan proses pembudayaan dimana terdapat
proses menaburkan benih-benih budaya dan menyemaikan peradaban manusia yang
hidup dan dihidupi oleh nilai-nilai atau visi yang berkembang dan dikembangkan
di dalam suatu masyarakat. Kebudayaan merupakan sesuatu yang dinamis, bukan
statis, dalam arti kebudayaan senantiasa berada dalam proses transformasi
melalui proses pendidikan. Budaya yang tidak mengalami transformasi melalui proses
pendidikan merupakan budaya yang mati, yang berarti pula suatu masyarakat yang
mati.
Seorang
antropolog pendidikan Theodore Bramled (Tilaar, 1999) mengkaji keterkaitan yang
erat antara pendidikan, masyarakat, dan kebudayaan. Pendidikan dan kebudayaan memiliki
hubungan yang erat karena keduanya sama-sama berkenaan dengan nilai-nilai.
Pendidikan tidak dapat terlepas dari kebudayaan dan hanya dapat terlaksana
dalam suatu masyarakat. Tidak ada suatu proses pendidikan tanpa kebudayaan dan
tanpa masyarakat, demikian pula sebaliknya. Pendidikan hanya dapat berlangsung
dan terlaksana dalam hubungan antarmanusia di dalam suatu masyarakat tertentu. Pendidikan
digunakan oleh setiap masyarakat untuk mempertahankan kelangsungan hidup
masyarakat dan budayanya, serta untuk mengupayakan agar setiap warga masyarakat
menjadi pendukung aktif institusi dan budaya yang bersangkutan.
Melalui
pendidikan, keutuhan sosio-budaya beserta komponen-komponennya dipertahankan
dan dikembangkan. Pendidikan sosio-budaya menjadi suatu keharusan supaya
eksistensi masyarakat budaya dapat terjamin (Suyata, 2000). Pendidikan juga merupakan
proses transfer pengetahuan dan reproduksi sosial yang ada dalam suatu masyarakat,
baik dalam satu generasi yang sama maupun melibatkan orang-orang dari generasi
yang berbeda (PM. Laksono, 2016). Oleh karenanya dapat dibayangkan, betapa
suatu proses pendidikan yang terlepas dari kebudayaan dalam masyarakat maupun
kebudayaan tanpa proses pendidikan, hanya akan menyongsong dan menuai kepunahan
kebudayaan. Pendidikan yang terlepas dari kebudayaan akan menyenankan alienasi
(keterasingan) dari subjek didik dan kemungkinan matinya kebudayaan. Sebagai
akibatnya proses kebudayaan dan proses pendidikan seringkali berjalan
sendiri-sendiri, dan kemungkinan saling bertabrakan satu dengan yang lain
karena arah orientasi yang tidak sama. Pendidikan merupakan proses pemanusiaan
manusia berbudaya Indonesia yang inetraktif berkesinambungan dan konsentris.
Maksudnya bahwa manusia Indonesia berakar pada budaya bangsa dalam membawa
manusia dan masyarakat Indonesai ke dalam suatu masyarakat madani Indonesia
memasuki pergaulan bangsa-bangsa di dunia yang terbuka. Proses pemanusiaan
berimplikasi bahwa proses pendidikan terjadi dalam interaksi antar manusia dalam
masyarakat Indonesia yang majemuk. Proses pemanusiaan itu merupakan suatu proses
interkultural yang meliputi budaya lokal, nasional, dan internasional (global) menuju
kepada terciptanya suatu masyarakat madani global. Oleh karena itu pendidikan
memerlukan perspektif sosio-kultural
Daftar
Pustaka :
HAR.
Tilaar, 1999. Pendidikan, Kebudayaan, dan Masyarakat Madani Indonesia.
Bandung:
Remaja Rosdakarya.
P.M. Laksono. 2015.
Antropologi Pendidikan. Yogyakarta: Kepel Press.
Suyata.
2000. Sosio-Antropologi Pendidikan. Modul Perkuliahan.

Posting Komentar
Posting Komentar