Penelitian

Posting Komentar
DAMPAK DARI PENGGANTIAN HUTAN JATI MENJADI HUTAN PINUS DI DATARAN TINGGI DI WILAYAH KECAMATAN WANAREJA TERHADAP PERTANIAN DI DESA SIDAMULYA



Disusun oleh :
ENDANG TRI ADININGSIH
X MIA 1



SMA N 1 MAJENANG
TAHUN PELAJARAN 2016/2017
DAMPAK DARI PENGGANTIAN HUTAN JATI MEMJADI HUTAN PINUS DI DATARAN TINGGI DI WILAYAH KECAMATAN WANAREJA TERHADAP PERTANIAN DI DESA SIDAMULYA

BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar belakang
Desa Sidamulya adalah desa yang terletak di wilayah paling selatan yang berbatasan dengan Jawa Barat . Desa tersebut dibatasi oleh sungai Citandui yang membatasi provinsi Jawa Barat dengan  Jawa Tengah .
Di wilayah ini mayoritas penduduk bermata pencaharian sebagai petani . Desa Sidamulya terletak di dataran yang paling rendah di wilayah kecmatan Wanareja . Petani di desa Sidamulya sering mengalami gagal panen karena di musim penghujan sering dilanda banjir, harapannya di musim kemarau bisa menanan padi yang mengandalkan saluran irigasi tetapi, kenyataannya walaupun sarana prasaranannya sudah dibangun tapi airnya tidk sampai ke desa Sidamulya. Karena airnya sudah habis di wilayah hulu . Menurut cerita yang ada ,  sebelum hutan jati diganti menjadi hutan pinus ,khususnya di desa ini jarang terjadi banjir di sawah pada musim penghujan sedangkan di musim kemarau kebutuhan air untuk pertanian tercukupi .
           







1.2  Rumusan masalah
Berdasarkan uraian latarbelakang tersebut, maka dapat dirumuskan beberapa masalah, yaitu sebagai berikut :
                             1.            Bagaimana pengaruh penggantian hutan jati menjadi hutan pinus terhadap petani padi khususnya di desa Sidamulya ?
                             2.            Mengapa penggantian hutan jati menjadi hutan pinus dapat mempengaruhi pertanian di desa sidamulya ?
                             3.            Apa yang menjadi penyebab penggantian hutan jati menjadi hutan pinus ?
                             4.            Apa kelebihan dan kekeurangan hutan pinus ?
1.3  Tujuan
                   1.            Mengetahui pengaruh penggantian hutan jati menjadi hutan pinus terhadap pertanian di desa Sidamulya
                   2.            Mengetahui manfaat hutan jati dan hutan pinus
                   3.            Mengetahui kekurangan dan kelebihan dari hutan pinus
1.4  Manfaat
                   1.            Dapat memberikan informasi pengaruh penggantian hutan jati menjadi hutan pinus terhadap pertanian di desa Sidamulya .
                   2.            Mengetahui tingkat panen padi di desa Sidamulya











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1  Landasan Teori
a       Pengertian hutan :
Menurut Dr. Sumardi Hs, S.Sos, hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan dalam persekutuan alam lingkungannya, dan yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan.  
Menurtut Dr. Sumardi Hs, S.Sos Ada beberapa fungsi hutan yang sangat penting bagi kehidupan makhluk di muka bumi, diantaranya:
  1.    Menyediakan oksigen (O2)
  2.    Menyerap karbon dioksida (CO2)
  3.    Mencegah erosi
  4.    Pelestarian Plasma Nutfah
  5.    Mengatasi Penggenangan
  6.    Pelestarian Air Tanah
            Hutan memiliki fungsi dan manfaat yang sangat besar bagi kehidupan kita, baik langsung maupun tidak langsung. Diantaranya produksi hasil hutan, mengatur iklim mikro dan eko wisata. Oleh sebab itu, kerusakan hutan akan dapat menimbulkan terjadinya bencana alam dan kerugian yang besar bagi masyarakat, seperti banjir, tanah longsor dan pemanasan global.

b       Pengertian dan Definisi hutan jati dan manfaatnya
Hutan jati merupakan suatu wilayah atau lokasi yang ditumbuhi oleh pohon-pohon jati (Tectona grandis).Wilayah Indonesia yang dilewati garis khatulistiwa, sangat cocok sebagai tempat pertumbuhan jati. Sehingga tak heran, jika perkembangan hutan jati sangat cepat dan semakin banyak .

Manfaat hutan jati:

1)       Mampu memperbaiki dan mengembalikan struktur tanah
2)       Sebagai tempat tinggal makhluk hidup
3)       Sebagai tempat penyerapan air
4)       Dapat digunakan sebagai tempat wisata alam
5)       Kayu jati dapat digunakan sebagai perabotan rumah tagga
6)       Daun jati dapat digunakan sebagai tempat pembungkus makanan
7)       Mampu meningkatkan perekonomian masyarakat yang tinggal di sekitarnya
c        Pengertian hutan pinus
Hutan pinus merupakan contoh ekosistem taiga, yang memiliki daun jarum. Secara geografis pohon pinus sebetulnya tidak cocok di tanam di daerah resapan air, hal tersebut dikarenakan hutan pinus memiliki daun jarum yang banyak memiliki stomata, sehingga akan banyak menyerap dan menguapkan air.
Fungsi Hutan Pinus:
a        Fungsi Ekonomi:
(1) Sebagai penghasil kayu,
(2) Sebagai hasil devisa bagi negara.
b       Fungsi Ekologis:
(1) Mempertahankan kesuburan tanah,
(2) Mencegah terjadinya  erosi,
(3) Mencegah terjadinya banjir,
(4) Sebagi tempat untuk mempertahankan keaneka ragaman hayati.
c        Fungsi Klimatologis:
(1) Sebagai penghasil oksigen
(2) Sebagai pengatur iklim.
d       Fungsi Hidrologis:
(1) Sebagai pengatur tata air tanah,
(2) Sebagai penyimpan air tanah,
(3) mencegah Intrusi air laut
Ciri-Ciri Hutan Pinus:
Pinus memiliki ciri khas yaitu memiliki batang utama silindris, lurus dalam tegakan rapat serta memiliki alur yang dalam, cabang-cabang membentuk putaran yang teratur, tinggi bebas, bebas cabang bisa mencapai 10-25 meter, memiliki bentuk daun jarum dengan jumlah dua helai yang dapat bertahan lebih dari 2 tahun dengan tepi daun bergerigi halus, bunga berbentuk stobili jantan dan betina. Daun merupakan bagian dari tajuk pohon yang mungkin terjadinya proses fotosintesis, respirasi dan transpirasi. Daun pinus berbentuk seperti jarum tersusun dalam berkas-berkas yang masing-masing terdiri atas dua helai. Tajuk pinus berwarna hijau muda dengan berbentuk limas pada waktu muda dan kemudian melebar setelah dewasa. Tajuk yang besar dan baik memunginkan produksi getah yang tinggi. Untuk memberikan kebebasan bagi perkembangan tajuk, dapat diusahakan dengan jarak tanam yang lebar dengan cara melakukan penjarangan untuk memberikan ruang yang cukup bagi pertumbuhan. biasanya terdapat di daerah iklim sedang
Peran Hutan Pinus
Peran Hutan Dalam Pengendalian Daur Air Hutan dengan penyebarannya yang luas, dengan struktur dan komposisinya yang beragam diharapkan mampu menyediakan manfaat lingkungan yang amat besar bagi kehidupan manusia antara lain jasa peredaman terhadap banjir, erosi dan sedimentasi serta jasa pengendalian daur air.
Peran hutan dalam pengendalian daur air dapat dikelompokkan sebagai berikut :
1.     Sebagai pengurang atau pembuang cadangan air di bumi melalui   
Proses :
a. Evapotranspirasi
b. Pemakaian air konsumtif  untuk pembentukan jaringan tubuh
    vegetasi .
2.     Menambah titik-titik air di atmosfer.
3.     Sebagai penghalang untuk sampainya air di bumi melalui proses
    Intersepsi
4.     Sebagai pengurang atau peredam energi kinetik aliran air lewat :
a. Tahanan permukaan dari bagian batang di permukaan
b. Tahanan aliran air permukaan karena adanya seresah di
    permukaan .
5.     Sebagai pendorong ke arah perbaikan kemampuan watak fisik tanah untuk memasukkan air lewat sistem perakaran, penambahan bahan organik ataupun adanya kenaikan kegiatan biologis di dalam tanah.

Pengaruh hutan pinus terhadap hidrologi
a)     Tegakan pinus mempunyai intersepsi, stemflow dan throughfall yang lebih tinggi dibandingkan dengan tegakan puspa maupun Agathis.
b)    Hutan Pinus karena mempunyai intersepsi dan evapotranspirasi tinggi akan banyak mengkonsumsi air sehingga perlu pencermatan besarnya curah hujan di wilayah pengembangannya supaya tidak menyebabkan masalah kekurangan air.
c)     Kandungan lengas tanah di hutan pinus lebih tinggi daripada kandungan lengas tanah di semak belukar dan tanaman pangan. Semakin tua umur tegakan pinus juga semakin besar kemampuannya untuk meresapkan air ke dalam tanah. Hal ini membuktikan bahwa tegakan hutan sangat bagus dalam meresapkan air ke dalam tanah.
d)    Seresah pada hutan pinus dapat menambah bahan organik tanah sehingga menurunkan bulk density tanah dan meningkatkan porositasnya
e)     Debit rata-rata yang dihasilkan pada DAS yang didominasi hutan pinus termasuk katagori baik, debit minimalnya termasuk katagori jelek dan debit maksimumnya termasuk katagori baik.
f)      Hutan pinus tidak mampu meredam besarnya aliran permukaan yang disebabkan oleh hujan yang ekstrem tinggi (> 100 mm).
g)     SUB DAS berhutan lebih baik dalam mengendalikanaliran permukaan, dibandingkan dengan SUB DAS non hutan.
h)    Hutan tanaman pinus sangat berperan sekali sebagai regulator air, yaitu memasok air pada musim hujan kedalam tanah dan mengeluarkannya pada musim kering.

  Pengaruh Pengolahan Hutan Pinus Terhadap Erosi dan Tata Air
a)     Tingkat erosi pada areal penanaman kembali hutan pinus cenderung meningkat dan mencapai erosi yang diperkirakan tiga tahun setelah penebangan.
b)    Pemeliharaan hutan tanaman pinus yang berupa kombinasi perlakuan pemangkasan dengan pembuatan rorak akan dapat menurunkan kehilangan air di hutan pinus (30% karena evapotranspirasi dan 14 % karena limpasan permukaan).
c)     Di satu sisi kegiatan penebangan menyebabkan kenaikan aliran permukaan langsung dan di sisi lain terjadinya pengurangan tingkat konsumsi akibat hilangnya evapotranspirasi
d)    Efek dari penebangan berlangsung selama 3 tahun, setelah itu ekosistem akan pulih kembali seiiring dengan membaiknya penutupan lahan, sehingga koefiisien aliran menurun dan tingkat fluktuasi debit juga menurun, kembali kepada kondisi sebelum ditebang.
e)     Bila dibandingkan dengan erosi yang terjadi  habis, maka kedua pola (papan catur dan jalur kontur) yang dicobakan menunjukkan hasil erosi yang lebih kecil .

2.2  Hipotesis
a)     Hipotesis Nol (H0)
Penggantian hutan jati menjadi hutan pinus mempengaruhi pertanian di desa Sidamulya .
b)    Hipotesis Alternatif(Ha)
Penggantian hutan jati menjadi hutan pinus mempengaruhi    pertanian di desa sidamulya .
BAB III
METODOLOGI PENELITAN
3.1            Metode
A.   Metode dalam penelitian ini adalah metode studi lapangan yaitu dengan cara  pengamatan secara langsung di lapangan berguna untuk mengetahui dan memahami permukaan bumi serta kegiatan manusia. Metode ini dilakukan dengan terjun langsung mengamati objek di yang lapangan. Dengan melakukan studi lapangan akan diketahui karakteristik khusus permukaan bumi.
B.   Pendekatan yang digunakan yaitu :
a)     Pendekatan kelingkungan atau ekologi
Karena hal ini berkaitan dengan interaksi antara makhluk hidup dengan lingkungannya. Pendekatan ini menekankan pada kerterkaitan antara fenomena geosfer yang terjadi beserta hubungannya dengan manusia dan perilakunya terhadap lingkungan. Kaerena permasalahan yang terjadi di desa ini disebabkan oleh perilaku manusia yang mengganti hutan jati menjadi hutan pinus, yang menyebabkan timbulnya berbagai masalah misalnya banjir dan kekuranagn air.
b)    Pendekatan Kompleks Wilayah
Karena masalah yang terjadi di desa Sidamulya ini disebabkan oleh penggantian hutan jati menjadi hutan pinus yang dilakukan di dataran tinggi yang ada di seekitar desa sidamulya .
3.2            Waktu dan tempat
Waktu    : Penelitian ini akan dilaksanakan pada bulan Desember 2016
Tempat  : Desa Sidamulya kecamatan Wanareja .
3.3            Alat dan bahan
a)     Alat tulis
b)    Laptop
3.4            Variabel penelitian
a)     Variabel Bebas
Dalam penelitian ini variabel bebasnya adalah penggantian hutan jati menjadi hutan pinus di dataran tingi yang ada di wilayah kecamatan Wanareja
b)    Variabel terikat
Dalam hal ini variabel terikatnya adalah hasil pertanian di desa Sidamulya


3.5            Populasi dan sempel
a)     Populasi : Semua sawah yang ada di desa Sidamulya
b)    Sampel : Sawah di dusun Bakung dan Mekarsari
3.6            Teknik pengumpulan data
          Observasi adalah cara dan teknik pengumpulan data dengan melakukan pengamatan dan pencatatan secara sistematik terhadap gejala atau fenomena yang ada pada objek penelitian .
3.7            Pengolahan data
Data yang telah dikumpulkan dilakukan pengolahan data.Tahap pengolahan data sebagai berikut :
1.     Editing
Langkah ini dimaksudkan untuk melakukan pengecekan kelengkapan data, kesinambungan data dan keseragaman data
2.     Koding
Setelah dilakukan editing, langkah selanjutnya adalah melakukan pengkodean data untuk memudahkan pengolahannya.
3.     Entry Data
Memasukkan data yang telah dilakukan koding ke dalam Variable Sheet SPSS version 11.
4.     Tabulasi
Merupakan langkah untuk mengelompokkan data ke dalam suatu data tertentu menurut sifat-sifat yang dimiliki.
3.8            Analisis data
Analisis data dilakukan dengan menggunakan Software Program SPSS version 11.25 Data yang diperoleh dari pengukuran dan hasil kuesioner diolah, diklasifikasikan dan disusun dalam bentuk narasi berdasarkan tabel. Adapun teknik analisanya yaitu sebagai berikut :
3.8.1. Analisis Univariate
Analisa univariate merupakan penyajian yang hanya mempersoalkan satu variabel yang dalam penyajiannya berbentuk tabel distribusi frekuensi. Analisa ini dilakukan pada keseluruhan variabel penelitian.
3.8.2. Analisis Bivariate
Analisis bivariate dilakukan untuk mengetahui ada tidaknya hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat, karena variabel penelitian ini terkait dengan skala pengukuran data nominal/ordinal maka digunakan uji Chi-Square. Uji Chi-Square adalah teknik statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis bila dalam populasi/sampel terdiri atas dua atau lebih klas, data berbentuk nominal dan sampelnya besar. Untuk menguji signifikansi dilakukan dengan menguji harga Chi Square hitung yang didapat dengan harga Chi Square tabel, pada taraf kesalahan dan dk tertentu. Ho ditolak bila harga Chi Square hitung Chi Square tabel atau bila p value < 0,05 pada taraf kepercayaan 95%.
3.8.3. Analisa multivariat
Dilakukan dengan menggunakan uji statistik analisis diskriminan (Discriminant Analysis). Analisis diskriminan merupakan bentuk regresi dengan variabel terikat berbentuk non metrik atau kategori.26 Uji analisis diskriminan (Discriminant Analysis) adalah teknik multivariat yang variabel dependennya menggunakan data katagorikal. Tujuan analisis diskriminan adalah untuk mengetahui apakah ada perbedaan yang jelas antar grup pada variabel dependen (penurunan kapasitas fungsi paru). Jika ada perbedaan, variabel independen manakah yang membuat perbedaan tersebut (letak tobong dan status responden). Sedangkan tujuan yang kedua adalah membuat fungsi atau model diskriminan yang pada dasarnya mirip dengan persamaan regresi.






KESIMPULAN
Penggantian hutan jati menjadi hutan pinus tidak tepat karena hutan pinus tidak mampu meredam besarnya aliran permukaan yang disebabkan oleh hujan yang ekstrem tinggi (> 100 mm), dan pohon pinus sebetulnya tidak cocok di tanam di daerah resapan air, hal tersebut dikarenakan pinus memiliki daun jarum yang banyak memiliki stomata, sehingga akan banyak menyerap dan menguapkan air yang akan meyebabkan masalah kekurangan air.

SARAN
Tanamilah kembali hutan yang ada di dataran tinggi di wilayah kecamatan Wanareja dengan pohon jati atau sejenisnya demi kelestarian hutan dan sumberdaya air .
DAFTAR PUSTAKA

Related Posts

Buka Komentar

Posting Komentar